#ResensiJanuari2020

Judul: Resilience : Remi’s Rebelion
Penulis : @nellaneva.books
Penerbit : @bipgramedia
Penyunting : Ani Nuraini Syahara
ISBN : 9786024831073
480 halaman
Peresensi : @literavy

SAYA BENCI BUKU INI. Dalam rentang waktu 3 bulan, saya sudah dua kali membaca buku ini. Pertama kali membacanya saya merasa dikuliti di beberapa bagian tubuh, saking relatenya dengan cerita yang disuguhkan. Tapi selayaknya toxic yang melenakan, saya tidak bisa melepaskan diri begitu saja setelah membaca buku harian Remi ini.

Nihilis, skeptic, sulit bergaul, sarkas, memiliki masalah keluarga, tidak punya teman di sekolah, kurang realistis apa coba kita dengan tokoh Remi? Menyelami hari demi hari yang dilaluinya, waku demi waktu menyaksikannya tumbuh, berusaha, gagal, bangkit, terhempas, hampa, terpuruk, mengevaluasi diri, bergerak perlahan agar tidak jatuh lagi, seperti itulah saya mengikuti Remi melalui buku ini.

Bab pertama lagsung menampar saya habis-habisan. Ketakutan Remi adalah ketakutan saya. Tapi masalahnya memang berbeda, masalah Remi bukan masalah saya. Perjalanan Remi menemukan teman memberikan warna tersendiri. Keceriaan Kino menular dan menghangatkan hati. Sayangnya saya tidak punya Kino dalam versi nyata. Mungkin hidup saya akan baik-baik saja jika saya memiliki Kino di hidup saya atau mungkin juga tidak. Bab Rebellion mengajarkan saya untuk berkaca ada diri sendiri tentang apa yang saya takutkan dan bagimana dan sejauh apa saya berusaha mengubah semuanya. Rebellion adalah pemberontakan Remi terhadap dirinya sendiri, terhadap apa yang ditakutkan dan dipikirkannya dalam kesendiriannya, dia memutuskan untuk melangkah dan memberontak pada dirinya sendiri.
Waktu berlalu terasa sangat cepat, memasuki bab Resilience Sembilan tahun kemudian, Remi tetaplah Remi yang overthinking tapi dia tidak lagi seperti dulu. Ada hal-hal yang tidak kita temui lagi dalam dirinya. Lupakan tentang Kino yang seringkali menghilang. Tapi kita tak pernah bisa begitu saja melupakan seseorang yang membawa perubahan besar dalam diri kita bukan? Qurter life crisis kini menghantui, saatnya mempertanyakan hal-hal yang telah kita lalui, terutama keputusan-keputusan yang pernah kita buat. Kehadiran Emir memberikan nyawa baru dalam hidup Remi, kekelamannya mampu membuat Remi merasa nyaman sekaligus bingung, karena seringkali interaksi dengan manusia memang membingungkan Remi. Tapi kehadirannya memberi banyak alasan dan jawaban juga ketakutan baru yang selama ini menghantui Remi.

Resilience, dalam percakapan singkat bersama Emir, kita pahami bersama bahwa kata itu berarti kapasitas suatu substansi untuk kembali ke bentuknya semula setelah mengalami kerusakan. Kemampuan untuk pulih dari kesulitan dan gangguan. Bukan mereka yang mampu beresiliansi, tetapi Elang, adik (eh, Kakak) Emir.
Kehadiran emir menyadarkan Remi dan saya tentang fungsi diri dari kebermanfaatan, tentang bagaimana kita bisa menerima dan berdamai kengan kesakitan dan kepahitan. Emir bagi saya tetap sosok yang kelam dan irit bicara. Tapi saya akan sangat senang sekali jika bertemu dengan sosok Emir di dunia nyata untuk teman berbincang dan membuat saya lebih waras dan siap jika berargumen. Saya akui saya payah dalam hal itu. Emir, Remi maupun Kino tidak diciptakan sebagia sosok ideal yang membuat hati meleleh (hanya Kino yang mendekati hal ini), tetapi kehadiran mereka memberi nuansa baru dalam kehidupan pemikiran saya. Tokoh yang tidak bersinar terang seperti bulan, tapi lebih menyerupai bintang yang kecil tapi memiliki cahayanya sendiri.

👆🏻Itu kesan kesan saya membaca buku ini ya,

Selanjutnya ulasan singkat buku ini 👇🏻

Remi bermimpi dia akan mati sendirian, menyedihkan, tanpa orang lain yang menemani, hal ini membawanya pada keputusan besar, dia ingin memiliki teman agar tidak mati sendirian. Semesta mendukung, telat masuk sekolah membuatnya terkena detensi dengan Kino dan beberapa orang lainnya, pada Kino yang kebetulan ketua kelasnya yang juga supellah dia minta tolong agar dia bisa berteman dengan orang lain. Meskipun awalnya merasa aneh dengan alas an Remi, Kino menyetujuinya dan mulailah mereka menjalankan misi agar Remi memiliki teman. Dibantu Kino yang memang supel, perlahan-lahan Remi memiliki teman dan mempunyai keberanian untuk membuka diri terhadap orang lain. Bukan tanpa hambatan, persahabtan mereka membawa perubahan positif pada diri masing-masing. Kisah bab rebellion ditutup dengan kepergian Kino ke Amerika untuk kuliah, ada kekosongan yang terasa dan kemarahan serta kekecewaan yang melingkupi membaca part ini. Kosong.

Sembilan tahun kemudian, saat Remi telah menjadi sarjana dan pernah pula mengabdi di daerah tertinggal, hdupnya tak semuram dulu. Tapi kepergian Kino membuatnya sulit untuk membuka hati pada orang lain. Remi kini memiliki sahabat yang menerima dirinya yang bahkan terasa aneh untuk dirinya sendiri ditambah Uzi yang kemampuan cenayangnya membuat Remi mau tidak mau lalu dekat dengan sosok bernama Emir, yang irit bicara dan tingkat kesinisanya jauh melampaui yang mampu diterima Remi. Tapi semesta seolah memintanya untuk selalu dekat dengan Emir. Selalu ada kejadian yang membuatnya bertemu lagi dengan pria itu. Dengan caranya sendiri mereka saling menemukan, menyembuhkan dan memahami. Kehadiran Elang diantara mereka membuat ketimpangan yang ada menjadi hilang.
Sekalipun berbalut romance, buku ini tidak menyuguhkan kisah cinta yang biasa tapi pemaknaan akan pengenalan diri menjadi poin utama sekaligus daya Tarik utama dalam buku ini.

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share