#ResensiDesember2020

Judul : Pangeran Bumi, Kesatria Bulan
Penulis : Ary Nilandari
Penyunting : Prisca Primasari
Penerbit : Qanita
Tahun Cetak : Cetakan Pertama Juni 2014
Halaman : 324 Halaman
ISBN : 978-602-1637-38-8
Peresensi : Sho Pim

Maya adalah salah satu dari anak-anak yatim piatu yang berada di rumah asuh Bunda Wulan. Dia yang paling bekerja keras untuk melindungi seluruh saudara-saudaranya, penghuni rumah tersebut, berusaha untuk mematahkan stigma kebanyakan orang tentang yatim piatu yang kurang beruntung, anak anak terbuang yang hidup dalam belas kasihan orang lain, dan penuh ketidak berdayaan. Keinginan untuk mematahkan stigma itu begitu kuat sehingga tanpa Maya sadari, dia bersikap keras kepada diri sendiri, mengabaikan kepentingannya demi saudara-saudaranya.

Ada juga Geo dan Juno. Dua laki-laki yang hadir untuk Maya, saling bahu membahu membantunya dalam segala kondisi, membereskan permasalahan yang tidak bisa dihadapinya seorang diri.

Awalnya Maya yakin akan perasaannya kepada Geo, tapi saat Geo mengungkit tentang Juno yang diibaratkan seperti kesatria bulan sekaligus oksigen dalam dunia Maya, perempuan itu jadi ragu-ragu. Siapa yang akan dipilihnya?

Bisa saya katakan, Pangeran Bumi Kesatria Bulan memiliki tema cinta segitiga tanpa adanya adu jotos dan drama berlarut-larut. Geo dan Juno bersaing secara sehat dan mengutamakan kenyamanan Maya daripada keinginan pribadi.

Karakterisasi dalam novel ini sangat baik hingga masing-masing tokohnya terasa sangat nyata, suasana yang dibangun juga terasa sangat baik. Bagaimana keresahan anak-anak di rumah asuh Bunda Wulan yang penasaran tentang jati diri mereka, tentang keinginan memiliki keluarga, hingga bagaimana mereka menerima jati diri mereka bahwa mereka adalah bayi-bayi yang dibuang atau ditelantarkan oleh orang tua mereka tersampaikan dengan baik dari awal hingga akhir cerita.

Selain itu, banyak sekali insight-insight menarik yang dijelaskan dengan baik, membawa kesan realitas tapi tidak terasa membosankan. Seperti penjelasan tentang sindrom asperger, hemifacial microsomia, buku MIMS, Spathodea campanulata, hukum pengangkatan anak secara umum dan dalam kacamata islam.

Menurut saya ceritanya menarik, segar, dan membuat gereget. Di tiap-tiap halamannya selalu muncul misteri-misteri kecil yang membuat saya dilema apakah harus mengintip akhir dari buku ini atau bertahan. Tepat di halaman 175 akhirnya saya menyerah karena terlalu gereget dan mengintip ke akhir lalu melanjutkannya kembali.

“Aku cuma mau bilang, aku baru saja selesai membaca sebuah novel. Ada kalimat-kalimat yang membuatku terkesan. Dan aku ingin berbagi denganmu. Mungkin karena perumpamaannya cocok dengan kita. Katanya begini, dua sungai yang mengalir berdampingan tidak harus bersatu dan bermuara pada titik yang sama. Tetapi keduanya masih bisa memberikan manfaat bagi satu sama lain dan lingkungan mereka ” (hlm. 315)

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share