#ResensiDesember2020

Judul: Lost Connections: Uncovering the Real Causes of Depression – and the Unexpected Solutions
Penulis: Johann Hari
Penerbit: Bloomsbury Publishing
Jumlah halaman: 484
Tahun terbit: 2018
Bahasa: Inggris
Peresensi: Raina Jamila Ali

Apakah depresi disebabkan oleh gen atau faktor bawaan? Atau ketidakseimbangan yang terjadi di otak? Atau mungkin faktor lingkungan?

Yang mengantarkan saya membaca buku ini ialah desakan untuk lebih memahami topik yang semakin sering dibahas oleh teman-teman sebaya saya. Mereka, pada awal usia 20-an, memiliki kesadaran lebih terhadap isu kesehatan mental khususnya berkaitan dengan depresi. Tidak ingin terjebak dengan bias makna terhadap topik sensitif itu, saya memilih membaca beberapa karya literatur dan buku ini adalah salah satu diantaranya.

Saya ingin mencari sudut pandang baru tentang bagaimana depresi datang ke dalam hidup kita dan bagaimana cara kita memahami gangguan tersebut. Buku ini banyak membantu dalam merevisi pemahaman saya terhadap depresi. Bukan menitikberatkan tentang how to atau tutorial bagi seseorang untuk bangkit dari rasa depresi, Lost Connections: Uncovering the Real Causes of Depression justru menyajikan apa yang kiranya bisa disebut ‘sejarah depresi’ dalam konteks bagaimana para pakar dalam berbagai multidisplin ilmu mencoba memecahkan dan ‘menyembuhkan’ depresi—juga didalamnya berisi kekeliruan- kekeliruan fatal yang baru ditemukan setelah muncul penelitian-penelitian baru. Misalnya bagaimana pandangan pakar (khususnya bidang psikiatri) dalam menganggap antidepressant/obat untuk menangani depresi dan mental illness lain, merupakan satu-satunya jalan untuk mengobati depresi. Hingga penelitian yang dilakukan George Brown dan rekannya Tiril Harris merombak ulang pemahaman tersebut. Seperti yang dikutip dalam buku, “a chemical imbalance is not the cause, and drugs are not the solution.”

Sulit untuk mengepak buku ini dalam satu ulasan ringkas karena kekompleksan informasi yang diberikan. Keunggulannya kira-kira bisa ditakar dari format footnote/catatan kaki yang disajikan untuk memberi pembaca perluasan referensi, kemudian bahasa Inggris yang dipakai tidak terlalu berat, dan bagi pembaca yang gemar membaca hasil komparasi dari penelitian para ahli, buku ketiga dari penulis kelahiran Skotlandia ini akan sangat memuaskan untuk dibaca. Sayang sekali buku ini belum dialihbahasakan kedalam bahasa Indonesia. Diikuti dengan kekurangan yang lain seperti akan menjemukan bagi pembaca yang lebih nyaman dengan format cerita alih-alih laporan dan hipotesa. Karena tempat penelitian yang disebutkan dalam buku terjadi di negara-negara Barat, maka kajian isunya menyangkut keadaan negara-negara sekuler (ini sebenarnya tidak terlalu cocok dimasukkan sebagai kategori kekurangan).

Buku ini membantu saya pribadi melihat depresi melalui kacamata objektif dan lebih memahami fenomena yang terjadi pada manusia dan lingkungan tempatnya bertumbuh.
.
Saya membaca versi e-booknya lewat langganan di Scribd. Sebagai pelengkap buku2 yg tidak bisa diakses di gramdig (khususnya buku2 bhs inggris). Sistemnya seperti gramdig. Bisa sharing 4 akun.

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share