Assalamu’alaikum member BacaYuk,

Adakah yang sudah baca buku Kenang-kenangan Hidup yang akan kita bedah malam ini? Jika belum tak mengapa, mudah2an selepas ini, ada rezeki dari Allah dan keluangan waktu untuk menyantap buku bagus ini.

Karena pada dasarnya, agenda bedah buku ini dibuat untuk mencerahkan/menginspirasi pendengarnya. Dan di antara pendengar tersebut, ada yang siap atau setengah siap dalam menikmati forum. Intinya, berbagi kebaikan tidak boleh putus dalam beragam situasi. 🙏

Buku kita kali ini sangat tebal, sekitar 651 halaman. Andai buku tebal ini saya wakilkan dengan satu kata, saya akan memilih sebuah kata yang saya anggap cocok : ISTIMEWA. Ya, buku yang saya kategorikan istimewa ini berisikan sesuatu yang tidak banyak dilakukan orang, yaitu dari jenisnya sendiri yang memang sudah istimewa yakni autobiografi

Pengertian Autobiografi
Autobiografi adalah sebuah biografi yang dicatat oleh sosok aktivis yang didalamnya mengisahkan mengenai ekspedisi hidup pribadi maupun riwayat hidup yang dicatat oleh orang itu sendiri. Seingat saya, jenis autobiografi ini sangat sedikit. Rata-rata orang meminta dituliskan oleh orang lain atau orang lain yang menuliskan biografi sosok tertentu, sehingga rasa dan nilai yang termaktub dalam buku tersebut bisa berbeda dengan yang dimaksudkan sang tokoh. Apalagi kalau kita kaitkan dengan kebutuhan kekinian terkait pencitraan tokoh. buku biografi seolah kehilangan urgensi dan keotentikannya

Maka, sekali lagi, buku Kenang-kenangan Hidup ini ISTIMEWA karena ditulis langsung oleh Hamka. Gaya bahasanya… perasaannya…. pikirannya… toleransinya… kemarahannya….. kekecewaannya…. semua lebih terasa.

Bagi yang belum pernah membaca buku dengan langgam melayu, mungkin agak kaget dan bingung membaca buku Hamka ini. Karena sangat kental nuansa melayunya. Banyak kata-kata unik yang jarang saya pakai dan sudah mulai jarang didengar. Nuansa semakin terasa kalau kita membuat semacam perbandingan dengan buku sejenis tentang Hamka. Contoh yang ada di saya, selain Kenang-kenangan Hidup, ada HAMKA seri historia Gramedia, juga Ayah versi republika yang ditulis oleh anak Hamka. Penulisan sosok dari macam-macam sudut pandang ini melahirkan persepsi yang berbeda tentang tokoh Hamka. Jadi, baiknya… Kalau ingin mengetahui sosok Hamka, bisa dimulai dengan membaca dari Kenang-kenangan Hidup inii. Barangkali itu penilaian saya secara umum terhadap buku ini.

SEPUTAR ISI :……
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo, populer dengan nama penanya Hamka (bahasa Arab: عبد الملك كريم أمر الله‎; lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Masa kecil Hamka yang terkesan nakal : Hamka adalah anak seorang ulama. Sebagai anak ulama, bapaknya tentu ingin pula melihat Hamka meneruskan misi dakwahnya. Sayangnya, Hamka rupanya tidak menunjukkan ciri-ciri ulama dan keseriusah mengkaji agama seperti yang dibayangkan ayahanda. Di bawah pengasuhan sang kakek, Hamka lebih suka bermain dan jahil. Beberapa kali ayahnya melakukan upaya supaya Hamka serius, tapi tetap saja dia angin-anginan. Barulah ketika dia punya teman sepengajian dan perempuan, suasana belajarnya semakin semangat dan hafalan mengajinya makin bertambah. Ayahnya pun mengirim Hamka ke luar kota supaya lebih serius lagi. Tetapi justru kesempatan itu dipakai Hamka untuk berpetualang dan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru sesuai kemauan hatinya.

HAMKA di Sekolah Dasar Maninjau hanya sampai kelas dua. Ketika usia 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab
HAMKA bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan. Pada tahun 1929 di Padang Panjang, HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957- 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.

Sejak perjanjian Roem-Royen 1949, ia pindah ke Jakarta dan memulai kariernya sebagai pegawai di Departemen Agama pada masa KH Abdul Wahid Hasyim. Waktu itu HAMKA sering memberikan kuliah di berbagai perguruan tinggi Islam di Tanah Air. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia. Pada 26 Juli 1977 Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali, melantik HAMKA sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudian meletakkan jabatan itu pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Ada satu bagian khusus ketika Hamka berbagi pikirannya tentang seni dan menulis.
“Pengarang seharusnya mengilhami benak lewat kata-kata, sebab seorang pengarang itu peka sekali perasaannya. ”
Pepatah Arab berkata, “ahsanusy syi’ri akzabuhu”, syair yang paling indah adalah syair yang paling banyak bohongnya.
Nah ketika Al-Quran turun dan membuat kalam yang lebih tinggi dari perkataan tukang syair, maka tahulah kita bahwa syair seharusnya membawa hikmah, bukan hanya mendayu-dayu yang menipu.
Ingatlah, “pengarang mengatasi zamannya”. Turun derajat seorang pengarang kalau tulisannya dibuat demi memuaskan pembaca. Jika sudah demikian, kebodohan akan menjadi kebodohan dan orang-orang gembira dengan kebodohannya.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid). Pada 1950, ia mendapat kesempatan untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab. Sepulang dari lawatan itu, HAMKA menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum menyelesaikan roman-roman di atas, ia telah membuat roman yang lainnya. Seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura. Setelah itu HAMKA menulis lagi di majalah baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita.

Sekiranya… ini dulu atau ini saja yang ingin saya gelontorkan dari buku Hamka ini ya. Tentu isi dalamnya masih banyak lagi dong. Nah, makanya baca sendiri.

Oya, tulisan di atas ada yang saya tulis sendiri, ada yang copas juga ya. Rata-rata kepustakaannya dari sumber yang sama yaitu buku autobiografi tersebut.
Soal quote, itu intisari dari saya saat di buku tersebut, Hamka mengkritik pengarang mabuk uang yang dibayar pemerintah untuk memuji-muji mereka. Persis deh seperti BuzzerRp yang sekarang sibuk naikin pamor rezim di medsos. Realitanya?Nasib rakyat nggak seindah kata-kata manisnya. 😕😔
Ini semacam retelling. Jadi memang bukan menyalin, tapi ditulis ulang, kadang diparafrase atau dibuat kalimat sendiri. Itu juga yang dilakukan buku-buku biografi yang mengambil dr sumber aslinya. Yang saya lakukan pun demikian. Walau itu hanya caption doang. Kalau mau yang redaksional Hamka, nanti saya fotokan.

Sekian, selamat membaca sendiri bukunya ya.

Alga Biru

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share