#ResensiOktober2020
.

.
Judul: Kemi – Cinta Kebebasan yang Tersesat
Penulis: Adian Husaini
Penerbit: Gema Insani
Tahun: Cetakan 10 – Juli 2020
Tebal: 316 halaman
Reviewer: Annissa Larasati

.

Bismillah,

“Logika-logika kaum liberal menyimpan kelemahan internal yang mendasar. Mereka sering bermain dengan kemasan dan retorika sehingga terkesan indah dan memukau.” (h. 175)

Sebuah novel cerdas yang mencerdaskan. Berisi dialog-dialog perang pemikiran mengenai agama, liberalisme, pluralisme, dan ‘teman-temannya’ yang dibalut dengan kisah seorang perjalanan hidup seorang santri.

Kemi, santri yang awalnya diharapkan dapat meneruskan mengajar di pesantren oleh Sang Kyai, memutuskan untuk melanjutkan kuliah keluar pesantren. Keputusannya yang tiba-tiba dan penuh misteri ini ternyata menjerumuskannya kepada pergaulan yang pada akhirnya mengubah pola pikirnya. Untunglah ia memiliki Rahmat, sahabatnya yang begitu khawatir dengan keadaannya dan memutuskan untuk ‘mengembalikan’ nya. Namun ternyata perjalanan Rahmat tak mudah, karena tanpa disadari Kemi sudah masuk dalam cengkraman mafia proyek-proyek liberalisme di Indonesia.

Buku ini merupakan buku pertama dari trilogi Kemi. Meskin merupakan cerita fiksi, namun terdapat fakta-fakta real menarik yang dijabarkan disini. Saya jadi sedikit ‘berkenalan’ dengan tokoh-tokoh liberalisme di dalam negeri maupun luar negeri.

“.. konsepsi Tuhan dari John Hick yang tidak membedakan antara agama wahyu dan agama budaya. Baginya, seolah-olah tidak ada wahyu; Tuhan hanyalah persepsi manusia. Itu inti kesalahan konsep Tuhannya.” (h. 112)

Dari sini membuat saya semakin menyadari dipoles secantik dan seindah apapun, apa yang tak sesuai fitrahnya akan membuat bimbang dan galau. Tak akan pernah mencapai kebenaran dan memberi ketenangan dalam hati.

Buku ini diterbitkan pertama kali tahun 2010, namun apa yang dituliskan masih sangat relevan dan menggambarkan kondisi saat ini, yang bahkan semakin parah. Strongly reccomended dibaca oleh para pemuda muslim!

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share