Sejarah bagi sebagian orang sangat membosankan, membuat ngantuk dan rumit. Terlebih ketika harus mengingat tanggal, bulan dan tahun. Apalagi ada anggapan bahwa sejarah adalah pelajaran yang tidak berbanding lurus dengan kehidupan masa depan manusia. Itu perspektif saya, ketika belajar sejarah di jenjang sekolah menengah pertama. Perspektif ini perlahan terkikis ketika saya menemukan fakta yang menarik tentang seorang Mustafa Kamal Attaturk.

Ibarat menemukan sebuah puzzle yang telah lama hilang. Sosok yang “menggugah” ini, menurut anggapan saya, mampu mendobrak tatanan masyarakat, tidak hanya masyarakat di wilayah Turki, akan tetapi masyarakat hampir di seluruh muka bumi ini. Dia dielu-elukan sebagai bapak pembaharu Turki, yang dengan pemikirannya mampu menjadikan Turki menjadi lebih “modern”. Namun, kenyataannya berbanding terbalik ketika saya belajar sejarah, bukan hanya sejarah sebagai doktrin akhir sebuah peristiwa yang akan diarsipkan dalam tanggal dan tahun. Saat itu saya menikmati sejarah sebagai proses bukan angka tahun yang tertera.

Sejarah bukanlah hafalan yang menjemukan (kalau ini terjadi, saya pun akan melambaikan tangan ke kamera dan melambaikan bendera putih). Sayangnya, hari ini kita memahami bahwa sejarah adalah sebuah (doktrin) hafalan. Sebagaimana kita dipaksa untuk menghapal bahwa manusia pertama itu adalah Pitecanthropus Erectus, bahwa yang menemukan benua Amerika itu adalah Columbus pada tahun 1492. Bukan bagaimana proses “Mengapa Pitecanthropus Erectus itu bisa disebut sebagai nenek moyangnya manusia?” dan bukan “Mengapa Columbus harus berlayar, bagaimana ia bisa sampai ke benua Amerika? Sebab di saat yang sama, Eropa berada pada masa kegelapan?”

Lalu mengapa sejarah itu terkesan membosankan? Karena kita tak pernah menikmati setiap momen yang terjadi. Tak pernah menikmati bahwa kita adalah pelaku sejarah, saksi sejarah, minimal untuk kehidupan kita sendiri. Grup ini adalah proses sejarah. Keberadaan kita dalam grup ini juga proses sejarah. Setiap rangkaian huruf yang kita baca juga proses sejarah. Bahkan setiap resensi dan bedah buku yang kita bahas adalah proses sejarah. Obrolan-obrolan ringan yang kita lakukan dalam grup ini adalah proses sejarah. Terkadang kita lupa dan bisa jadi abai dengan setiap rangkaian sejarah yang kita lakukan. Kita tak mencintai sejarah, namun hakikatnya kita adalah pengukir sejarah.

Sejarah adalah proses bukan angka tahun. Dan sejarah adalah puzzle kehidupan yang akan kita torehkan untuk anak cucu kita di masa depan.

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share