Bismillahirrahmanirrahim.

Grup Whatsapp Baca Yuk secara berkala mengundang bintang tamu dari luar pada segmen ADA TAMU.

Tamu kali ini adalah seorang sastrawan tulen. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, novel, drama, dan esai sastra yang dimuat di berbagai media massa. Ia merupakan pendiri Forum Lingkar Pena, Teater Bening, dan turut membesarkan Majalah Annida. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Sastra di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, mendapat Magister Humaniora dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, dan Doktor di bidang Pendidikan Bahasa dari Universitas Negeri Jakarta. Ia sering meraih penghargaan di dalam dan luar negeri. Penghargaan terakhir (ini kali ke-11) yang diraihnya adalah The World’s Most 500 Influential Muslims, Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan.

Sudah bisa menebak siapa dia? Betul. Dialah HELVY TIANA ROSA (HTR).

Jumat, 21 Agustus 2020, pukul 19.20 ruang Zoom Meeting telah dibuka guna pendaftaran ulang peserta. Peserta yang hadir tidak hanya dari komunitas Baca Yuk tetapi juga dari luar komunitas. Tepat pukul 19.30 acara dibuka oleh Firas Sabila sebagai MC. Firas adalah member Baca Yuk yang saat ini tengah berada di Belanda. Perbedaan waktu  Belanda dengan Indonesia selisih lima jam. Alhamdulillah koneksi internet Firas mulus.

Selama 30 menit berikutnya, lebih dari 50 peserta di ruang Zoom terkesima dengan pemaparan perjalanan menulis dari HTR. “Usia saya saat ini 50 tahun, saya lahir 2 April 1970,” demikian HTR mengawali pemaparannya. Namun ia merasa belum berbuat apa-apa. Masih ada banyak sekali hal yang ingin dicapainya.Perjalanan menulisnya dimulai sejak kelas 3 SD, saat itu menulis adalah caranya menghasilkan uang karena kondisi keluarganya yang sangat sangat sulit. Hasil dari menulis dibelikan buku.

Menurut HTR, semua orang bisa jadi penulis, asalkan dia memiliki tiga hal yaitu:

1. Memiliki tekad dan niat yang kuat.

“Menulis adalah perjalanan yg semua org bisa menempuhnya.”

Secara blak-blakan HTR mengungkapkan bahwa tujuan awal ia menulis untuk menghasilkan uang. Namun sejak memutuskan berhijab pada usia 18 tahun, tujuan ia menulis pun berubah. Perjuangannya berkerudung, tak mudah. Ya, karena ketika duduk di bangku SMA pada zamannya hanya segelintir yang mau berkerudung. Tiba di gerbang sekolah, kerudung yang dikenakannya sering ditarik satpam hingga peniti menggores dagunya. Makanya, ia amat menyayangkan jika saat ini para muslimah mudah sekali melepas kerudungnya. Karena itu, tekadnya untuk menyebarkan Islam lewat tulisan semakin bulat karena ia menyadari bahwa menulis menjadi bahasa perlawanan dan dakwah. Sebagai ladang jihad, sarana untuk menyampaikan kemaslahatan kepada umat, terutama kepada diri sendiri dan orang-orang terdekat. Seperti kita ketahui, di luar sana ada banyak sekali penulis-penulis yang memojokkan agama Islam. Berangkat dari keprihatinan itu, HTR ingin agar setiap tulisannya yang ditulis dari hati hingga sampai ke hati, menjadi sarana untuk beribadah kepada-Nya.

Setiap timbul rasa sedih, obatnya dengan menulis. Ketidaksukaan, diluapkan dengan menulis. Ketika bahagia, juga dengan menulis. Intinya, ekspresikan diri kita lewat tulisan.

2. Banyak membaca
Jangan bermimpi jadi penulis jika tidak suka membaca. Membaca akan menambah wawasan, memperbanyak kosakata, dan memperluas teknik penulisan. Iqra di dalam ayat-Nya artinya adalah membaca segalanya. Kauniyah dan qauliyah. Jangan bermimpi menjadi penulis hebat tanpa suka membaca. Bahkan, jika seorang penulis enggan membaca maka tulisannya akan kering.

3. Latihan menulis
Dengan banyak latihan maka akan tercipta kebiasaan baru. Mulailah dari menulis catatan harian, menulis kutipan di IG, Facebook, Twitter, dan sebagainya. Namun ingat, tujuan dari tulisan tersebut adalah bagian dari proses untuk jadi penulis. Berarti apa yang kita tulis adalah gambaran seorang calon penulis. Tidak sembarang menulis. Ada istilah “Snack Writing”. Maknanya, kita mengemil tulisan. Jadikan menulis itu seperti camilan.

Niat utama menulis adalah dakwah. Namun saat orang mengenal kita dari tulisan-tulisan kita, itu adalah bonus. Bonus lain adalah mendapatkan uang, jika mendapat royalti jangan pelit untuk bersedekah. seluruh royalti yang HTR dapatkan dari buku-bukunya, disedekahkan, masyaAllah. Menulis juga bisa menghantarkan kita pada jodoh kita seperti yang dialami oleh HTR. “Kamu abadi dengan menulis. Dengan menulis kamu bisa menjadi pendidik anak-anak yang hebat,” ujar suaminya dulu, di awal pernikahan.

Salah satu pesan yang membekas dari HTR adalah … jika ingin jadi penulis maka luangkan waktu untuk menulis. Jangan menunggu waktu luang, baru menulis. Karena jika menunggu waktu luang, maka tidak akan kunjung menulis.

Waktu menunjukkan pukul 20.15, saatnya diskusi. Tak disangka, minat peserta untuk bertanya ternyata luar biasa. Sehingga hanya beberapa peserta saja yang beruntung bertanya saat forum berlangsung. Mereka adalah:

  1. Putri Ira di Aceh. Ia bertanya tentang kendala menulis. HTR menjawab bahwa biasanya ada dua kendala yang ditemui seorang penulis yakni internal dan eksternal. Kalau eksternal semacam fasilitas atau internet agak susah diatasi. Tapi, kalau internal mudah diatasi. Tipsnya adalah:1. Luangkan waktu untuk menulis, jangan menunggu waktu luang2. Tiap orang punya jam biologis untuk menulis. HTR lebih senang menulis ketika suami dan anak-anaknya terlelap selepas qiyamullail.3. Bulatkan tekad untuk menulis dengan memotivasi diri. Contoh saat bercermin, bicaralah pada diri, “Kamu punya potensi untuk nulis, kamu sudah nulis apa hari ini?”4. Miliki diary pribadi. Kalau di keluarganya ada diary keluarga yang semua anggota keluarga termasuk pembantu bisa menulis di dalamnya. Ini bisa jadi tips latihan menulis.
  2. Dewi Fitriana di Lamongan.
    Dewi bertanya soal bagaimana membuat pembaca merasakan feel dari tulisan kita. Jawaban HTR adalah:1. Menulislah dengan jujur dari hati agar sampai ke hati2. Tulislah apa yang kita ketahui dan kuasai3. Kenali segmen pembaca yang ingin kita sasar. Anak, remaja, dewasa atau siapa?4. Jam terbang nulis mempengaruhi kualitas tulisan hingga mampu mengenali teknis menulis. Dan, ini membutuhkan proses yang lama. Jalan pintasnya adalah dengan membaca buku penulis terkemuka lalu kenali dan pelajari teknis kepenulisannya.
  3.  Awalina di Sukabumi. Di tengah sinyal yang kurang bersahabat, Awalina bertanya tentang harapan HTR untuk literasi Indonesia dan saat ini sedang mengerjakan proyek apa. Langsung disambut oleh HTR dengan kalimat, “Saya ingin semakin banyak lagi orang yang membaca dan menulis. Membaca bagi saya bukan lagi sebuah hobi melainkan kebutuhan. Sama halnya seperti kita butuh bernafas, makan, tidur, atau shalat. Tulisan adalah rekam jejak kita. Oleh karena itu, pastikan tulisan kita membawa kemaslahatan. Saat ini saya sedang menyusun buku biografi saya dan Asma Nadia. Saya juga sedang memproduseri film Hayya 2. Mohon doa dan dukungannya yaa.” Tuturnya ceria.
  4. Weni Agustianingsih di Medan.Weni bertanya bagaimana cara meningkatkan minat baca pada peserta didik. Di sini, HTR menerapkan sistem pasword pada mahasiswanya. Caranya, ketika di awal pembelajaran ia memanggil nama salah satu muridnya. Sang murid akan membacakan kutipan buku dengan memperagakannya, lalu menyebutkan karya penulisnya, judul buku, penerbit, serta tahun terbitnya.Selain itu, mahasiswanya diminta untuk memiliki soulmate seorang penulis terkenal. Mahasiswa inilah orang yang paling tahu soulmatenya dan hafal karyanya. Ia pun memberikan daftar bacaan yang wajib dibaca untuk menambah wawasan.HTR memiliki ritual unik saat menulis. Ia berwudhu kemudian menyiapkan rujak buah atau minimal buah sebagai cemilan. Dan, menjadikan me time untuk menulis yakni tengah malam hingga jelang subuh setelah qiyamullail.Setelah, cas cis cus menjawab pertanyaan sebuah kalimat hikmah sebagai penutup sharing dibagi,

    HIDUP KITA ADALAH SEJARAH, KARYA KITALAH YANG MEMPERTAHANKANNYA

***

Keseruan malam itu ditutup oleh pembacaan puisi karya HTR oleh Alga Biru, founder Baca Yuk. Ini dia puisinya:

YANG BERDANSA DI KERUDUNG

Aku kangen

berenang di matamu

menatap cuaca dan cakrawala

dari wajahmu

tapi kini samar bayangmu

pupus dalam mangkuk-mangkuk

sajakku yang retak

 

Huruf huruf pun gelisah

berdansa di kerudungku

musim silih berganti

memproduksi kenangan

yang diam-diam mengungsi

ke jantung puisi

(2013)

 

*Catatan oleh Kiikhy, Hamsiah, Choirin Fitri dan Maya Rohmah (Member Bacayuk)
IG @resensi_bacayuk | web: www.bacayuk.org

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share