Judul: Orang-Orang Bloomington

Penulis: Budi Darma

Penyunting: Nunung Wiyati

Penerbit: NouraBook

Terbit: Cet I, Mei 2016

Tebal: 296 hlm

Bintang:4/5

Peresensi: @sintabooks.705

Orang-Orang Bloomington adalah karya Budi Darma pertama yang saya baca. Judul buku Budi Darma ini sudah sering saya dengar, seperti halnya dengan Olenka. Orang-Orang Bloomington adalah kumpulan cerpen yang mengambil sudut pandang orang pertama, saya, membuat pembaca secara langsung seperti terlibat di dalam ceritanya.

Lima dari tujuh cerpen yang sudah saya baca, ternyata meninggalkan kesan. Salah satunya, cerpen Keluarga M, yang berawal dari kebiasaan ‘saya’ memperhatikan lapangan bermain anak dari jendela apartemennya. Dari situ muncul keingintahuan dari dua anak, kakak beradik yang seringkali bertengkar dengan anak-anak dari penghuni yang lain.

Perasaan ‘saya’ mengenal keluarga M berawal dari kekesalan yang berlanjut kebencian karena mobilnya tergaret paku, lalu imajinasi-imajinasi kebencian berkembang menjadi keinginan melukai dua anak keluarga M, lalu berkembang sampai menciptakan sebuah kondisi yang membuat perasaan ‘saya’ berubah saat menatap kembali keluarga M.

Keluarga M salah satu cerpen yang menggambarkan tentang perkembangan perasaan dalam diri ‘saya’ dari satu situasi ke situasi yang lain berlangsung sangat natural. Hal yang sama juga saya rasakan dengan kelima cerpen lainnya, yang semua bercerita tentang perasaan dari tokoh-tokoh ‘saya’. Cara manusia memandang sosok lain selalu dapat menerbitkan berbagai perasaan.

Ny. Elberhart dan Charles Lebourne, judul dua cerpen terakhir dalam Orang-orang Bloomington. Keduanya tentang tetangga berusia lanjut yang membangkitkan rasa penasaran tokoh ‘saya’ dengan alasan masing-masing. Masing-masing pun masih sama, menceritakan tentang perasaan-perasaan sudut pandang pertama yang bermunculan karena situasi dan konflik yang hadir di sekitar tokoh utama atau toko yang sedang diperhatikan.

Keingintahuan yang dilanjutkan dengan keinginan untuk tahu, bisa berdampak begitu besar bagi seseorang. Konflik di ketujuh cerpen dalam #OrangOrangBloomington selalu dilatari oleh keingintahuan tentang seseorang yang ada di sekitar tokoh ‘saya’. Hal yang sebenarnya naluriah, dan selalu muncul dalam diri manusia. Jadilah, saya menikmati proses mengamati dan merasakan apa yang dipikirkan para tokoh utama. Selain itu, yang saya suka adalah setiap cerpen selalu ada tokoh yang unik tapi manusiawi, hanya Orez yang saya masih belum paham sosoknya.

Sebagian orang akan menganggap buku ini membosankan, karena alurnya lambat dan hanya bertutur tentang apa yang dirasakan ‘saya’ saat menatap atau bersama dengan seseorang, bahkan kadang terasa seperti diulang-ulang. Tapi, bagian itulah yang saya suka, seperti meresapi pikiran-pikiran yang kemudian mempengaruhi perubahan sikap dan tindakan setiap tokoh ‘saya’. Mantap.

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share
+1