Judul : Tentang Kamu

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika
Tahun. : 2016
Tebal. : 524 halaman
Peresensi : @LastRi_aND

Awalnya, saya pikir buku ini tentang cinta dua sejoli. Ternyata, dugaan meleset. Hanya sekilas saja berkisah tentang asmara dua insan. Selebihnya, ini tentang perjuangan seorang wanita bernama Sri Ningsih.

Kisahnya diawali oleh seorang Pengacara bernama Zaman Zulkarnain. Sedang kuliah dan tahap mengerjakan tesis. Di waktu yang sama, dia dipanggil oleh salah satu kantor Lawyer Thompson & Co. Lawyer yang khusus bergerak di bidang warisan terkenal di Inggris. Dan, Zaman diberi amanah menyelesaikan masalah warisan seorang klien yang dipercayakan pada mereka.

Tanpa surat warisan, tanpa nama ahli waris, disitulah misteri kisahnya dimulai. Bermodal nomor telepon dan sebuah surat kuasa untuk menyelesaikan warisannya bernilai fantastis, Thompson & Co. bergerak mengutus Zaman. Target awal menuju Perancis. Disana, bertemu seorang karyawan panti jompo, tempat Sri Ningsih tinggal. Zaman diberikan sebuah Diary Sri. Dari diary itulah, Zaman mencari tahu siapakah ahli warisnya.

Dia pun berangkat ke Pulau Bungin, sesuai dengan petunjuk diary dan foto. Lima hari disana, baru mereka menemukan seseorang yang bisa menjelaskan latar belakang Sri Ningsih. Cerita dibawa ke masa lalu, sejak sebel kelahiran Sri dan meninggalnya kedua orang tuanya. Hingga, kisahnya pergi meninggalkan Bungin, Sumbawa.

Ada harapan, bahwa Sri punya adik. Maka, Zaman melanjutkan perjalanan ke Pesantren di Jatim. Disana, dia bertemu dengan salah satu sahabat Sri Ningsih. Dialah yang menceritakan kehidupan Sri. Mereka ada 3 bersahabat. Dan akhirnya, pas peristiwa pergolangan PKI, salah satu dari mereka berkhianat. Menjadi pengikut PKI dan membantai penghuni pesantren. Awalnya, memang karena dengki. Masalah selesai, saat di pengkhianat dipenjara. Sri meninggalkan pesantren dan pergi ke Jakarta. Ia kecewa, karena dikabarkan adiknya telah meninggal dicincang di sawah.

Disini, pembaca berpikir tidak mungkin ada ahli warisnya. Karena harapan satu-satunya, ya adiknya.

Selama di Jakarta, ini mengisahkan tentang jatuh bangunnya membangun bisnis. Hingga, berhasil mendirikan pabrik sabun. Lalu, ia putuskan menjual pabrik tersebut, karena ada teror dari si pengkhianat. Tapi, dalam cerita, ini tidak diungkap. Semuanya terbuka di akhir. Dia akhirnya memutuskan pergi ke London. Disana dia juga mulai usaha dari nol, dengan bekerja sebagai supir. Hingga kisah pernikahannya dengan pria Turki. Kisah tersebut ditelusuri oleh Zaman.

Banyak kejutan dari tiap plotnya. Bikin penasaran tak ingin berhenti membaca. Endingnya, cukup mengharukan. Ternyata, surat wasiatnya ada dalam box kayu yang diberikan Nur, sahabatnya yang di pesantren.

Apa isi surat wasiatnya? Wah, bagian ini yang paling mengharukan. Surat tersebut kompit. Semua orang yang telah membantu dalam suksesnya perjalanan hidupnya berhak atas 1% dari warisannya.

Ada dua kali salah penulisan nama tokoh. Yaitu harusnya Sri Ningsih, ditulis Sri Rahayu. Tokoh Murni ditulis jadi Ningrum. Tapi, tidak terlalu mengubah alir cerita.

Teka-teki untuk mendapatkan petunjuk ahli waris ini yang paling bikin deg-degan bacanya. Dan endingnya bikin puas rasa penasaran yang sedari awal terpendam.

Tapi, covernya kurang nyambung ya dengan isi? Judulnya itu diambil dari lirik lagu yang ditulis suami Sri Ningsih. Ya, bisa jadi itu sepatunya 😂

Sekian

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share
+1