Judul : Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX
Penulis : Peter Carey dan Vincent Houben
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Peter Carey
Cetakan : ke-3 February 2018 (revisi)
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Halaman : 114
Peresensi : Dwi Agustina Djati

Sebuah buku yang membuka cakrawala persepsi tentang perempuan di masa lalu. Mitos aktivitas perempuan Jawa di seputar dapur, sumur dan kasur terbantahkan oleh buku ini. Perempuan Jawa tidak hanya berkiprah diranah domestik, namun juga ada di ranah publik.

Abad 18-19 merupakan ruang lingkup bidikan buku ini. Karena setelah abad 19 berkembang stigma perempuan Jawa yang terkungkung tradisi. Sehingga RA kartini harus berjuang mendobrak tradisi ini.

Dalam buku ini memaparkan tentang kiprah perempuan di ranah publik. Salah satunya bidang militer. Sebagai Senopati Perang Putri di wakili oleh RA Serang dan RA Yudhokusuma. Masing masing sebagai Senopati paaukan Kavaleri dan Infrantri pada Perang Jawa. Akademi militer putri di Surakarta menghasilkan pasukan perang putri dengan nama ‘Prajurit Estri’. Pasukan ini merupakan pasukan khusus pengawal dan pasukan khusus di medan tempur. Kemampuan menembak, memanah dan bermain pedang tidak kalah dengan prajurit laki-laki.

Pun di buku ini juga menceritakan tentang ambisi perempuan menguasai perdagangan. RA Kencono Wulan adalah pebisnis yang handal dipasar Beringharjo, Yogyakarta, bahkan cenderung rakus karena meminta keuntungan tiap proyek dengan memanfaatkan kedudukanya sebagai first Lady.

Sedang peran domemstiknya.juga cukup.menonjol. sebagai pelestari wangsa, penjaga nilai nilai tradisi Jawa, pembimbing anak dan penjunjung agama. Kita mengenal Pangeran Diponegoro sebagaI pribadi kuat, cakap dan agamis. Tak lepas dari bimbingan istri Sultan sepuh (Hamengku Buwono II), sang nenek. Sedangkan beliau adalah putra dari Hamengku Buwono III.

Sisi gelap perempuan juga dihadirkan. Sebagai ledek (penari tayub) dan Menjalin hubungan gelap dengan pejabat istana sebagai perimbangan fakta yang terjadi di masa itu. Dunia memang tidak akan lepas dari hitam dan putih. Ada kemuliaan dan ada kehinaan di dalamnya. Karena manusia memang memiliki dua sisi tersebut, termasuk perempuan.

Inilah potret perempuan Jawa di abad 18-19. Buku ini termasuk komplit, meski cuma 114 halaman. sumber literasinya juga cukup banyak, termasuk catatan harian prajurit estri. sedang kelemahanya hanya pada kurang mendalamnya pemaparan di tiap babnya. Namun mungkin ini dimaksudkan untuk pembaca menelusuri sumber sumber tulisan tersebut. Wallahu’alam bi Showab.

0 Shares
Tweet
Share
Pin
Share
+1